Fuck You! We’re from Bandung!

Oleh: Gustaff H. Iskandar**
                         

Judul tulisan di atas sengaja saya ambil dari bagian belakang t-shirt teman saya. Sekedar informasi, teks ini sebetulnya berasal dari sebuah t-shirt yang merupakan merchandise resmi dari Puppen, sebuah band hardcore lokal legendaris yang membubarkan diri pada tahun 2001. Sebelum Puppen, sebetulnya sudah banyak orang yang menggunakan teks yang bernada ofensif semacam ini. Diantaranya sebutlah, "Fuck You! We’re From Texas!" atau "Fuck You! We’re Motley Crue!", keduanya berasal dari Amerika. Bagaimana teks ini bisa sampai di kota Bandung melalui sebuah band underground lokal, bisa jadi merupakan bahan pembicaraan yang juga merepresentasikan kondisi keseharian kita saat ini. Proses mimikri dan saturisasi teks dan informasi saat ini bisa jadi merupakan hal yang lumrah di tengah-tengah gencarnya proses globalisasi (saya lebih senang menyebut ini sebagai proses kreolisasi), termasuk juga percepatan pola sirkulasi data & informasi yang sekarang ini memang dimungkinkan melalui pesatnya perkembangan di bidang teknologi informasi.

                         
                         

Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

                         

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.
                         

                         

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

                         

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

                         

Reverse: Markas Kecil di Sukasenang
Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati
oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan
simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork,
asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

                         

Kemudian bermunculan sederet komunitas
baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas
skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai
pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

                         

"Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!", ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang
ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. "Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan", ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

                         

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman
celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band 
underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. "Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda." Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal
di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede
Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

                         

Biografi Kota: Dari Era Kolonial, Jaman Aktuil, Geng Motor, sampai Barudak Punk
Sejak dinobatkan sebagai kota terbuka oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutz pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sejak dulu memang telah menjadi tempat bagi tujuan wisata, perdagangan dan pendidikan. Hal ini yang sedikit banyak membawa pengaruh bagi perkembangan Kota Bandung pada era sesudahnya. Pernah dahulu Kota Bandung disebut sebagai ‘Parijs van Java’, dan diusulkan untuk menjadi pusat bagi koloni orang Eropa yang singgah di daerah katulistiwa oleh seorang ilmuwan yang bernama Ir. R. van Hoevell. Sebagai salah satu kota besar yang berkembang sejak era kolonial Belanda, wajar apabila saat ini Kota Bandung juga dikenal sebagai kota yang menerima berbagai macam pengaruh dari bangsa-bangsa
seluruh dunia, dan tidak terisolasi dari berbagai perkembangan yang ada. Di era kolonial Belanda, berbagai infrastruktur kota; terutama sarana transportasi, perdagangan, dan pendidikan adalah pintu gerbang utama yang memungkinkan berbagai informasi dan pengetahuan masuk ke kota ini.

                         

Salah satu pengaruh kuat yang bisa terlihat saat ini misalnya di bidang arsitektur. Sampai sekarang kita masih dapat menemui berbagai macam peninggalan berupa gedung tempat pesta dan hiburan dengan corak art deco, yang merupakan peninggalan orang-orang Eropa. Yang paling menonjol mungkin adalah Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka) dan beberapa gedung di sekitar jalan Braga dan Asia Afrika. Dalam beberapa catatan yang ada, pada masa kolonial di tempat-tempat ini juga sering diadakan berbagai macam pesta dan pertunjukan yang ditujukan untuk menghibur warga Eropa yang saat itu tinggal di Bandung. Almarhum Haryoto Kunto bahkan sempat mencatat kalau pernah dulu seorang Charlie Chaplin mampir ke Bandung dan menginap di Hotel Savoy Homan yang terletak di Jalan Asia Afrika. Di masa itu, mayoritas penduduk Kota Bandung adalah orang-orang Eropa, yang pada perkembangan selanjutnya membawa pengaruh yang penting bagi pertumbuhan budaya perkotaan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh di wilayah Asia.

                         

Setelah era kolonial, pembangunan berbagai sarana transportasi, komunikasi, dan perkembangan di bidang teknologi informasi semakin menempatkan Kota Bandung sebagai bagian dari jaringan dunia global. Seiring dengan gencarnya perputaran arus informasi, muncul berbagai bentuk kesadaran individu, keterbukaan, kebebasan berekspresi dan toleransi, diantara kelompok masyarakat, termasuk diantara beberapa komunitas anak muda di Bandung. Semangat untuk menyikapi perbedaan
dengan cara yang khas (nyeleneh, kumaha aing!), pada
beberapa kelompok anak muda Bandung tampaknya juga
ikut melahirkan pola resistensi, yang dapat kita kenali sebagai sebuah model budaya tandingan (counter-culture).
Kebiasaan untuk membentuk budaya tandingan untuk menyikapi
budaya yang dianggap lebih mapan setidaknya mendorong pertumbuhan budaya urban di kalangan masyarakat kota
Bandung menjadi lebih dinamis. Hal ini tampaknya juga
menunjukan tabiat masyarakat kota Bandung yang memang
senantiasa haus akan perubahan dan perbedaan.

                         

Sebagian kalangan di Indonesia tentu kenal dengan angkatan majalah Aktuil yang muncul di Bandung pada tahun ‘70-an, dengan tiga dedengkotnya, yaitu Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado.
Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus
tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend
setter anak muda yang penting pada masa itu, sampai 
kemudian berhasil mendatangkan kelompok musik Deep 
Purple pada tahun 1975.(4) 
Dalam sebuah catatan, Remy Sylado menyatakan bahwa
majalah Aktuil memang menyuarakan semangat budaya
tandingan (counter culture) terhadap struktur budaya
yang mapan pada masa itu. Selanjutnya, mungkin ada
juga yang tahu mengenai keberadaan geng motor yang populer di kota ini sejak tahun ‘70 sampai dengan pertengahan ‘80-an, yang didominasi oleh para penggemar
motor tua semacam Harley Davidson, Ariel, BMW dan
lain sebagainya. Pada masa itu, setidaknya ada 2 kelompok
motor tua yang disegani, seperti misalnya Black Angel
dan The Motor. Kelompok ini pulalah yang belakangan
mendorong lahirnya kelompok penggemar motor tua yang
masih eksis sampai sekarang, yaitu Biker’s Brotherhood.(5)

                         

Di era ’80-an, selain komunitas
motor tua, sejak dibangunnya sebuah skatepark kecil
di Taman Lalu Lintas (Taman Ade Irma Suryani) pada pertengahan ‘80-an, muncul komunitas skateboard yang kemudian menjadi cikal bakal bagi kelompok bmx, punk,
dan hardcore yang mulai populer di tahun ‘90-an. Melalui komunitas ini pulalah mulai populer wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan peran inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan. Melalui wacana DIY, selain perkembangan distro, clothing, record label lokal, juga muncul sederet nama yang kemudian menjadi catatan yang penting bagi kota ini, yaitu kelompok-kelompok band seperti Puppen (bubar pada tahun 2001), Pas, Koil, Jeruji,
Full of Hate, Forgotten, Burger Kill, Jasad dan masih 
banyak lagi. Band-band inilah yang sempat meramaikan
    acara-acara musik underground di tempat seperti GOR
Saparua, dimana biasanya banyak komunitas anak muda yang memanfaatkan acara ini untuk berkumpul dengan dandanan dan sikap mental (attitude) yang sangat spesifik.

                         

Sebuah fenomena baru kemudian merebak di penghujung era ’90-an. Setelah pertunjukan musik underground semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam
soal dana, dalam beberapa waktu terakhir pada hampir setiap malam Minggu kita bisa menemui sebagian warga 
Kota Bandung berparade di jalan-jalan utama semisal Jalan Dago di wilayah utara kota. Berbagai komunitas berkumpul sambil berpesta pora, meneruskan kebiasaan yang sebetulnya sudah menunjukan gelagatnya sejak awal tahun ‘90-an. Lepas dari era ’90-an, saat
ini beberapa acara underground dapat dikatakan kembali 
marak selama kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Beberapa acara seperti Contamination, Flower Pop,
Bandung Berisik, One Blood, dll, sempat menyita perhatian
publik di kota kembang. Acara-acara semacam ini sekarang
kebanyakan disponsori oleh perusahaan clothing lokal
yang kini mulai banyak yang memiliki kemampuan ekonomi
yang cukup. Selain itu, beberapa acara lain sering dilakukan di beberapa klub lokal seperti misalnya
TRL Bar di daerah jalan Braga. Di bar ini, selain
pertunjukan musik rock, juga sering diselenggarakan
acara bagi pengemar musik pop, jazz, elektronik, sampai
musik yang bernuansa eksperimental.

                         

Ekspansi di Ruang Publik: Dari Jalanan
Sampai ke Pasar Fashion Daur Ulang

Seiring dengan rontoknya rezim Soeharto, perilaku
warga Kota Bandung pun memperlihatkan polanya yang
baru. Setidaknya sejak sekitar tahun ‘96, orang-orang mulai terbiasa menyalurkan aspirasi mereka sebebas-bebasnya di ruang publik. Hal ini ditunjukan melalui persentuhan
yang intens di ruang publik semisal jalan raya, gedung-gedung,
pertokoan, dll. Di era ini, berbagai kelompok dari 
beragam komunitas; dari mulai mahasiswa, penggemar
otomotif, pelajar SMU, pengamen, pengangguran, kelompok 
hobi, pedagang dan lain sebagainya mulai tampak sering muncul di jalan-jalan utama Kota Bandung.

                         

Di jalanan, setiap warga kota kemudian bertemu untuk saling menonton dan mempertontonkan dirinya. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik ini muncul dengan wajah yang datang silih berganti. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, atau beberapa acara seperti Pasar Seni ITB, Dago Festival
sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan motor yang sering muncul dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street
fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak.

                         

Selain itu, sebagian warga kota juga kemudian mendapatkan sarana fashion daur ulang di wilayah Tegalega yang konon sempat dihuni oleh sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ‘95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain, tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan fashion di kota Bandung. Di tempat-tempat fashion daur ulang semacam ini, pakaian
bekas yang biasanya didatangkan dari luar negeri, sesampainya di lapak langsung disetrika dengan uap
panas dan dijual dengan harga yang sangat murah oleh para pedagang, yang kebanyakan adalah perantau dari daerah Padang, Sumatra Barat. Di tempat ini pulalah
banyak orang dapat menemukan pakaian-pakaian bekas
dengan berbagai macam model, dari mulai t-shirt, sweater,
gaun pesta, jaket kulit, berbagai macam asesoris, sampai pada jenis pakaian model vintage yang terlihat kuno dan dianggap ketinggalan jaman, yang kemudian menjadi bahan inspirasi gaya berpakaian mereka sehari-hari.
                         

                         

Situasi kota yang memiliki karakteristik
yang khas semacam ini, tentu saja sangat berperan bagi munculnya berbagai fenomena baru yang terus menerus mewarnai perkembangan masyarakat di Kota Bandung. Selain itu, secara geografis Kota Bandung berada di wilayah yang relatif mudah di akses. "Karena
Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama." Ujar Dede pada suatu kesempatan.
Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. "Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.", jelasnya.

                         

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV
Tidak hanya di era ‘90-an – apabila
kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat
dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah
penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya,
melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi
satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri
untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru
yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan
scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu
pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

                         

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal
mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung ke arah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah
perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band
baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri
musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio
kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan
di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet
yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung 
saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.
                           
Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak
sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band
underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter 
MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari
Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin
populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama
beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet
pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory
outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro
yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

                         

Melalui keberadaan beberapa komunitas
anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang
   yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita
dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang 
berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa
sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung
pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat
ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi  kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa
kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture)
pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara
beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi
berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk
itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai
perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya
musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen
yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan
yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.
                         

                         

Pertumbuhan yang pesat yang sangat
ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda
di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota
lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri.
Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada 
pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui
internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard
juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang
diberi judul "masaindahbangetsekalipisan", yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal
seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit,
Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara
itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang
sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung
distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal 
Singapura atau Malaysia. "Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual
lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil," ujarnya.

                         

Wujud dari terbentuknya jaringan
yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records
merilis sebuah kompilasi yang berjudul "Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp". Kompilasi ini
didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece
Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi
ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada
tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal
dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain
sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang 
berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh
lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah
banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin,
Jasad, dsb.

                         

Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan
media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan
sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru,
baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya
dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas
anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun
perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan
di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih
terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya
dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan
kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh
dunia. Salut! Selamat datang di Kota Bandung!

                         

Kyai Gede Utama, 16 Januari 
2003

                            **penulis adalah seniman, saat ini bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts dan Common Room

                         

End Notes:
(1) Sebagian isi dari artikel ini telah diterjemahkan 
ke dalam artikel berbahasa Inggris yang  berjudul "Bandung Underground on Parade" untuk Majalah Latitudes edisi Maret/April 2003. Selain itu, beberapa point dari
artikel juga dipresetasikan dalam acara Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi (20-22 Oktober 2003), pada sesi "Budaya Industri dan Pergulatan Identitas".
(2) Singkatan dari distribution outlet. Istilah ini mulai populer di Bandung pada pertengahan ‘90-an untuk menggambarkan keberadaan toko-toko kecil yang menjual
berbagai produk semacam kaset, t-shirt dan merchandise
buatan lokal ataupun luar negeri yang biasanya dikelola secara individu ataupun berkelompok.
(3) Wawancara dengan Richard Mutter.
(4) Dari www.pantau.or.id, download terakhir 1 Maret
2003
(5) Wawancara dengan Tommy Dwi Djatmiko

##nice article! sumber: http://www.commonroom.info

Leave a Reply