Archive for December, 2005

Jamaica’s Away…

Tuesday, December 27th, 2005

Imglogo01Waw, pas pertama denger kirain bukan lagu punyanya band asal Indonesia. Souljah, band dari Bekasi ini berhasil menciptakan salah satu lagu reggae terindah yang pernah saya dengar. Sebuah lagu yang bercerita tentang kecintaan dan dedikasi mereka untuk musik reggae.

Sebelum berkecimpung di musik reggae, Souljah sempat bermain2 di kancah musik ska, dengan nama grup Arigatoo. Akar musik ska yang juga adalah reggae rupanya membuat meraka tidak sulit pindah jalur ke musik reggae.

Dulu ketika saya coba mencari lirik lagu ini pake google, ternyata saya didrop pada sebuah situs filipino. Akhirnya dapatlah lirik tsb, dan satu hal yang perlu dicatat dari situs tersebut tentang lagu ini adalah: "GOOD REGGAE FROM INDONESIA".

Good works, guys!

"Jamaica’s Away" by Souljah

Jamaica’s away, away from the land that i am livin’
Away from the
beach that got me goin’
Away from the sound that came out within

Jamaica’s away, and my
love is somewhere between
To seek love is never comin’
And the music really got me
missin

Why, why do i love the music
why does it made it dancin’
once it turns once
it plays and my feet start to sway

why, why people think i’m crazy
why do they say i’m
losin’ my way
it got me good got my mood not forgetting my root

oh…it’s in my ear…
oh…it’s all that i hear…


Listen to the raindrops falling from the top
my
heart are still with the jamaica’s appeal.
so calling reggae music the beat is in my hand
my soul flyin’ up instead….

As I walk in the road I remember what they told me,
the
song i singin’ and the rhythm i swingin’,
people are praying for the gold were stolen,
but happy for what we’re leavin’

more about Souljah:
http://www.braddasouljah.com

Maung maen di lembur euy!

Tuesday, December 27th, 2005

      

Logo_persib_1933_a Menonton kesebelasan Persib Bandung berlaga di kota/kampung halaman sendiri tentunya menjadi impian setiap bobotoh termasuk saya. Dan akhirnya impian tersebut menjadi kenyataan, ketika hari Jum’at (23/12) kemaren Maung Bandung bertanding melawan PS Pemda Ciamis (bukan PSGC Ciamis seperti yang diberitakan di koran) di Stadion Galuh, Ciamis!

Ah…stadion yang biasanya cuma dilewatin kalo mau ke pasar nganterin Ibu belanja ataupun dulu lewat pulang pergi sekolah waktu masih SMU tiba2 menjadi tempat ujicoba Persib lawan tim lokal sendiri. Biasa aja? Tunggu dulu, bwt saya yang bobotoh Persib dan juga asli Ciamis, itu hal besar cing! Hehehe… kesempatan besar seperti ini tentu tidak  akan saya lewatkan, pokona mah kudu balik ti Bandung ka Ciamis!

Berangkat dari kos rada telat, jam 10 siang. Itupun ga mandi dulu, soalnya badan lagi sakit euy…tapi demi Persib mah, no problem! :D Naek taksi (kajeun beak duit ge pokona ulah telat nepi Ciamis) dari Buahbatu sampe pool bis Budiman di kawasan Cibiru..dan akhirnya dapat bis jam 11 siang.

Nyampe Ciamis sekitar pukul 14.15, ada waktu bwt istirahat bentar di rumah. Namun apa yang dicemaskan terjadi juga…hujan lebat mulai turun  dan  sampe pukul 16.00 masih juga hujan walaupun udah agak reda. Untunglah jarak rumah ke stadion Galuh cuma 1 km, dan begitu nyampe stadion ternyata udah banyak bobotoh ngumpul, termasuk barudak Viking pusat dari Gurame (aduh, apal kitu mah bareng atuh ti Bandung!).

The Game
Kondisi lapangan setelah diguyur hujan yang sangat lebat ternyata cukup parah. Hampir sama dengan stadion Siliwangi sih hehehe…aliran bola banyak tersendat namun secara keseluruhan permainan berjalan lancar.  Terlihat ada peningkatan berarti dari sisi kerjasama tim Persib dibanding apa yang saya lihat waktu ujicoba lawan Persikab di stadion Jalak Harupat minggu2 kemaren. Sekitar 1000-an bobotoh/simpatisan Persib yang menonton sore itu cukup terhibur oleh aksi2 dari Salim Alydrus dkk.

Sebaliknya, PS Pemda Ciamis sebagai lawan ujicoba tampil mengecewakan. Nyaris tidak ada serangan berbahaya ke gawang Persib. Aduh, naha lain tim PSGC nu diturunkeun supaya rada aya perlawanan? Ngerakeun wae ah hehe…terdengar beberapa kali teriakan kecewa dari penonton  Ciamis melihat ketidakmampuan pemain2 Ciamis mengimbangi permainan Persib. Dalam pertandingan ujicoba seperti ini, mengingat kedua2nya tim lokal (satu lokal Ciamis dan satu lagi kebanggaan semua warga Jawa Barat) tentunya yang ditunggu-tunggu adalah permainan yang menarik. Namun apa boleh buat, materi dan pembinaan yang pas2an, ditambah kondisi stadion yang habis diguyur hujan lebat menyebabkan permainan PS Pemda kurang berkembang.

Akhirnya pertandingan yang berlangsung dalam sore yang dingin, gelap, basah, becek dan gerimis namun masih tetap menyedot animo warga Ciamis ini berakhir dengan skor 4-0 untuk Persib Bandung tercinta. Gol Persib dicetak Boy Jati, Mauro *telah dicoret*, Gendut Doni, dan Dicky Firasat. Ada perasaan bangga bisa melihat Persib  main di  kota sendiri, seneng juga bisa melihat  bahwa ternyata banyak juga barudak Viking di Ciamis (hayu euy nyieun distrik!) dan apalagi bobotoh/simpatisan Persib yang datang ke stadion sore itu. Secara umum tentunya ini menjadi bukti konkrit bahwa Persib memang telah menjadi milik semua warga Jawa Barat. Sejarah besar yang sudah ditorehkan Persib bertahun-tahun lalu sudah saatnya diukir kembali…semoga!!

JAYALAH PERSIB!!

Apa itu blog?

Tuesday, December 27th, 2005

Oleh: Ryan Koesuma

Kamu
sering denger kata-kata blog tapi gak tau itu apa? Kamu kepingin punya
blog biar dianggep gaul dan trendy tapi gak tau itu apa? Kamu
ikut-ikutan bikin blog di frenster
tapi gak tau itu apa? Kamu udah punya blog tapi masih juga gak tau blog
itu apa? Mari kemari, baca artikel ini biar kamu engga go-blog.

Okey, pertama-tama saya rasa kalau kamu emang cukup niat untuk mencari tau blog itu apa mungkin sudah cari disana sini, lewat google, atau kalau kamu lebih kawakan pasti udah nyari di wikipedia.
Tapi kalau kamu males baca bahasa inggris atau kamu lebih seneng
ngecengin pacar kamu saat pelajaran inggris di sekolah kamu dan nilai
kamu je-blog, kamu bisa baca artikel dari Enda Nasution, a.k.a bapak blog endanasution (baca: Indonesia, hehe) tentang Apa itu Blog?

Jadi,
apa itu blog? Well, untuk singkatnya, blog adalah sebuah medium untuk
penyampaian informasi dengan menggunakan jaringan internet, dengan cara
yang lebih egaliter dan dengan semangat globalisme, karena informasi
gak cuman milik media mainstream aja, setiap individu juga bisa
menyampaikan suaranya, yang sering kali lebih cepat, bebas dan variatif
karena tidak berada dibawah suatu jaringan korporat. Bisa dibilang blog
adalah New Media for Information and Culture.
Kehadiran blog sebagai sumber informasi baru sudah mulai menunjukan
signifikansinya karena para pembacanya membutuhkan informasi yang
mungkin tidak terdapat di media mainstream dan untuk mendengar
suara-suara yang selama ini belum terdengar tanpa kehadiran jaringan
internet. Atau dalam kata lain kalo kamu kepingin mencari tau tentang
sesuatu yang agak sulit di cari di media mainstream, kemungkinannya
akan sangat besar kamu akan mendapatkannya lewat blog seseorang, kalo
gak dapet, yah bikin sendiri aja.

Lalu dari informasi itu
apakah yang bisa disampaikan? Yang ini juga, tergantung sih sebenernya.
Dari pelakunya, tujuan dia nge-blog, dan bentuk informasinya. Contoh
yang paling umum bagi para blogger pemula. Kamu nulis diary atau jurnal
kamu secara online, trus curhat deh sebanyak-banyaknya tentang
diputusin pacar, pedekate sama orang, maki-maki orang, atau cuman nulis
lirik lagu orang, masukin buletin board atau junk mail yang
mengharukan, dst. dst. Tapi apakah ternyata kamu cuman sampai disitu
doang? Kalo iya, berarti blog kamu adalah seperti istilah blog yang di
deskripsikan oleh Roy Suryo, seorang yang katanya adalah pakar IT di
Indonesia tapi bahkan terlalu malu untuk mengakui kalo dirinya gak bisa
pake frenster:

Blog itu satu tren saja. Jadi,
seperti agenda yang bisa ditulisi macam-macam. Saya melihat blog
sendiri kebanyakan masih berupa katarsis atau tempat curahan emosi.

Atau,
kamu sudah lebih maju setahap dan mengerti kalo gak semua orang mau
baca curhatan kamu kecuali pacar kamu. Kamu mulai nulis secara rutin
tentang ide-ide, hasil karya naratif, hal-hal yang menarik dari
keseharian kamu dan lingkungan sosial, pendapat kamu tentang hal-hal
yang terjadi di sekitar kamu, dokumentasi, de el el. Atau juga kamu
menarik link-link kepada halaman/informasi yang menurut kamu menarik
untuk dibaca, dan memberitahukannya lewat blog kamu, jadi istilahnya
kamu sudah mempermudah orang lain untuk mencari informasi dengan
menjaringnya, atau membuat penjelasan sendiri, yah, seperti artikel ini
juga hehehe. Lebih baik lagi bahkan, kalau kamu sudah bisa
mempublikasikannya kepada orang lain secara global, mungkin dengan bridge-blogging, dan membuat orang lain yang nun jauh di ujung lain dunia ini tau tentang apa yang ada di sudut lain dunianya.

Tentu
saja, kita tidak bisa mengkotak-kotakkan yang ini blog yang ini bukan.
Blog adalah sebuat istilah yang cair. Intinya, jika ada tulisan yang
dibuat di media internet, dan disusun secara kronologis-terbalik (yang
paling baru yang duluan muncul), dan di-archive, dan di update secara rutin,
udah bisa disebut blog. Penulis blog pun bisa individual, group, dan
korporat, tergantung dari tujuannya membuat blog. Jika yang nge-blog
itu sebuah perusahaan, tentunya isi blognya adalah berita seputar
pengumuman produk, servis dan aktivitas perusahaan yang dianggap perlu
untuk di publikasikan. Jadi apakah portal berita seperti kompas atau
cnn bisa disebut blog? Kembali lagi, istilah ini bukan digunakan untuk
mengkotak-kotakkan atau mengkategorikan sesuatu, jadi selama esensi
blog hadir disana, ya, situs tersebut bisa dibilang cukup blog,
terlepas dari sisi mainstream atau independen.

Kalo kamu
ngaku-ngaku masih punya semangat "DIY" then go for it. Daripada DIY itu
jadi sekedar jargon yang basi dan membuat kita terlena unproduktif.
Cukup memprihatikan juga kalo ngeliat pengguna internet awam indonesia
menguasai sebagian besar jumlah user di frenster tapi kurang melek
untuk budaya internet yang baru ini. Tolong lah, internet itu bukan
sekedar buka frenster doang, atau cetting, atau ngirim2 junkmail ke
orang-orang tak berdosa, atau debat-debat kusir di forum.

Akan
tetapi, artikel ini enggak disusun untuk memandu kamu nge-blog atau
cara bikin blog. Udah ada seribu satu panduan di blogosphere (dunia
per-blog-an / internet), kalo kamu terlalu males untuk nyari tau
artinya kamu emang gak niat untuk ngeblog. Mendingan cukup aja sampai
disini, daripada saya menjadi berdosa untuk membuat blogger-blogger
"katarsis" baru. Mendingan kamu ikutan jadi Roy Suryo aja, karena Indonesia masih membutuhkan roy suryo - roy suryo baru, untuk tetap dimaki semua orang yang demen nonton infotaintment.

Ryan Koesuma, Oktober 2005

##artikel ini adalah salah satu yang mendorong saya untuk belajar nge-blog :D

sumber: http://www.deathrockstar.info

 

Fuck You! We’re from Bandung!

Tuesday, December 27th, 2005

Oleh: Gustaff H. Iskandar**
                         

Judul tulisan di atas sengaja saya ambil dari bagian belakang t-shirt teman saya. Sekedar informasi, teks ini sebetulnya berasal dari sebuah t-shirt yang merupakan merchandise resmi dari Puppen, sebuah band hardcore lokal legendaris yang membubarkan diri pada tahun 2001. Sebelum Puppen, sebetulnya sudah banyak orang yang menggunakan teks yang bernada ofensif semacam ini. Diantaranya sebutlah, "Fuck You! We’re From Texas!" atau "Fuck You! We’re Motley Crue!", keduanya berasal dari Amerika. Bagaimana teks ini bisa sampai di kota Bandung melalui sebuah band underground lokal, bisa jadi merupakan bahan pembicaraan yang juga merepresentasikan kondisi keseharian kita saat ini. Proses mimikri dan saturisasi teks dan informasi saat ini bisa jadi merupakan hal yang lumrah di tengah-tengah gencarnya proses globalisasi (saya lebih senang menyebut ini sebagai proses kreolisasi), termasuk juga percepatan pola sirkulasi data & informasi yang sekarang ini memang dimungkinkan melalui pesatnya perkembangan di bidang teknologi informasi.

                         
                         

Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

                         

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.
                         

                         

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

                         

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

                         

Reverse: Markas Kecil di Sukasenang
Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati
oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan
simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork,
asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

                         

Kemudian bermunculan sederet komunitas
baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas
skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai
pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

                         

"Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!", ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang
ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. "Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan", ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

                         

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman
celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band 
underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. "Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda." Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal
di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede
Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

                         

Biografi Kota: Dari Era Kolonial, Jaman Aktuil, Geng Motor, sampai Barudak Punk
Sejak dinobatkan sebagai kota terbuka oleh Gubernur Jendral J.B. van Heutz pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sejak dulu memang telah menjadi tempat bagi tujuan wisata, perdagangan dan pendidikan. Hal ini yang sedikit banyak membawa pengaruh bagi perkembangan Kota Bandung pada era sesudahnya. Pernah dahulu Kota Bandung disebut sebagai ‘Parijs van Java’, dan diusulkan untuk menjadi pusat bagi koloni orang Eropa yang singgah di daerah katulistiwa oleh seorang ilmuwan yang bernama Ir. R. van Hoevell. Sebagai salah satu kota besar yang berkembang sejak era kolonial Belanda, wajar apabila saat ini Kota Bandung juga dikenal sebagai kota yang menerima berbagai macam pengaruh dari bangsa-bangsa
seluruh dunia, dan tidak terisolasi dari berbagai perkembangan yang ada. Di era kolonial Belanda, berbagai infrastruktur kota; terutama sarana transportasi, perdagangan, dan pendidikan adalah pintu gerbang utama yang memungkinkan berbagai informasi dan pengetahuan masuk ke kota ini.

                         

Salah satu pengaruh kuat yang bisa terlihat saat ini misalnya di bidang arsitektur. Sampai sekarang kita masih dapat menemui berbagai macam peninggalan berupa gedung tempat pesta dan hiburan dengan corak art deco, yang merupakan peninggalan orang-orang Eropa. Yang paling menonjol mungkin adalah Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka) dan beberapa gedung di sekitar jalan Braga dan Asia Afrika. Dalam beberapa catatan yang ada, pada masa kolonial di tempat-tempat ini juga sering diadakan berbagai macam pesta dan pertunjukan yang ditujukan untuk menghibur warga Eropa yang saat itu tinggal di Bandung. Almarhum Haryoto Kunto bahkan sempat mencatat kalau pernah dulu seorang Charlie Chaplin mampir ke Bandung dan menginap di Hotel Savoy Homan yang terletak di Jalan Asia Afrika. Di masa itu, mayoritas penduduk Kota Bandung adalah orang-orang Eropa, yang pada perkembangan selanjutnya membawa pengaruh yang penting bagi pertumbuhan budaya perkotaan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh di wilayah Asia.

                         

Setelah era kolonial, pembangunan berbagai sarana transportasi, komunikasi, dan perkembangan di bidang teknologi informasi semakin menempatkan Kota Bandung sebagai bagian dari jaringan dunia global. Seiring dengan gencarnya perputaran arus informasi, muncul berbagai bentuk kesadaran individu, keterbukaan, kebebasan berekspresi dan toleransi, diantara kelompok masyarakat, termasuk diantara beberapa komunitas anak muda di Bandung. Semangat untuk menyikapi perbedaan
dengan cara yang khas (nyeleneh, kumaha aing!), pada
beberapa kelompok anak muda Bandung tampaknya juga
ikut melahirkan pola resistensi, yang dapat kita kenali sebagai sebuah model budaya tandingan (counter-culture).
Kebiasaan untuk membentuk budaya tandingan untuk menyikapi
budaya yang dianggap lebih mapan setidaknya mendorong pertumbuhan budaya urban di kalangan masyarakat kota
Bandung menjadi lebih dinamis. Hal ini tampaknya juga
menunjukan tabiat masyarakat kota Bandung yang memang
senantiasa haus akan perubahan dan perbedaan.

                         

Sebagian kalangan di Indonesia tentu kenal dengan angkatan majalah Aktuil yang muncul di Bandung pada tahun ‘70-an, dengan tiga dedengkotnya, yaitu Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado.
Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus
tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend
setter anak muda yang penting pada masa itu, sampai 
kemudian berhasil mendatangkan kelompok musik Deep 
Purple pada tahun 1975.(4) 
Dalam sebuah catatan, Remy Sylado menyatakan bahwa
majalah Aktuil memang menyuarakan semangat budaya
tandingan (counter culture) terhadap struktur budaya
yang mapan pada masa itu. Selanjutnya, mungkin ada
juga yang tahu mengenai keberadaan geng motor yang populer di kota ini sejak tahun ‘70 sampai dengan pertengahan ‘80-an, yang didominasi oleh para penggemar
motor tua semacam Harley Davidson, Ariel, BMW dan
lain sebagainya. Pada masa itu, setidaknya ada 2 kelompok
motor tua yang disegani, seperti misalnya Black Angel
dan The Motor. Kelompok ini pulalah yang belakangan
mendorong lahirnya kelompok penggemar motor tua yang
masih eksis sampai sekarang, yaitu Biker’s Brotherhood.(5)

                         

Di era ’80-an, selain komunitas
motor tua, sejak dibangunnya sebuah skatepark kecil
di Taman Lalu Lintas (Taman Ade Irma Suryani) pada pertengahan ‘80-an, muncul komunitas skateboard yang kemudian menjadi cikal bakal bagi kelompok bmx, punk,
dan hardcore yang mulai populer di tahun ‘90-an. Melalui komunitas ini pulalah mulai populer wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan peran inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan. Melalui wacana DIY, selain perkembangan distro, clothing, record label lokal, juga muncul sederet nama yang kemudian menjadi catatan yang penting bagi kota ini, yaitu kelompok-kelompok band seperti Puppen (bubar pada tahun 2001), Pas, Koil, Jeruji,
Full of Hate, Forgotten, Burger Kill, Jasad dan masih 
banyak lagi. Band-band inilah yang sempat meramaikan
    acara-acara musik underground di tempat seperti GOR
Saparua, dimana biasanya banyak komunitas anak muda yang memanfaatkan acara ini untuk berkumpul dengan dandanan dan sikap mental (attitude) yang sangat spesifik.

                         

Sebuah fenomena baru kemudian merebak di penghujung era ’90-an. Setelah pertunjukan musik underground semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam
soal dana, dalam beberapa waktu terakhir pada hampir setiap malam Minggu kita bisa menemui sebagian warga 
Kota Bandung berparade di jalan-jalan utama semisal Jalan Dago di wilayah utara kota. Berbagai komunitas berkumpul sambil berpesta pora, meneruskan kebiasaan yang sebetulnya sudah menunjukan gelagatnya sejak awal tahun ‘90-an. Lepas dari era ’90-an, saat
ini beberapa acara underground dapat dikatakan kembali 
marak selama kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Beberapa acara seperti Contamination, Flower Pop,
Bandung Berisik, One Blood, dll, sempat menyita perhatian
publik di kota kembang. Acara-acara semacam ini sekarang
kebanyakan disponsori oleh perusahaan clothing lokal
yang kini mulai banyak yang memiliki kemampuan ekonomi
yang cukup. Selain itu, beberapa acara lain sering dilakukan di beberapa klub lokal seperti misalnya
TRL Bar di daerah jalan Braga. Di bar ini, selain
pertunjukan musik rock, juga sering diselenggarakan
acara bagi pengemar musik pop, jazz, elektronik, sampai
musik yang bernuansa eksperimental.

                         

Ekspansi di Ruang Publik: Dari Jalanan
Sampai ke Pasar Fashion Daur Ulang

Seiring dengan rontoknya rezim Soeharto, perilaku
warga Kota Bandung pun memperlihatkan polanya yang
baru. Setidaknya sejak sekitar tahun ‘96, orang-orang mulai terbiasa menyalurkan aspirasi mereka sebebas-bebasnya di ruang publik. Hal ini ditunjukan melalui persentuhan
yang intens di ruang publik semisal jalan raya, gedung-gedung,
pertokoan, dll. Di era ini, berbagai kelompok dari 
beragam komunitas; dari mulai mahasiswa, penggemar
otomotif, pelajar SMU, pengamen, pengangguran, kelompok 
hobi, pedagang dan lain sebagainya mulai tampak sering muncul di jalan-jalan utama Kota Bandung.

                         

Di jalanan, setiap warga kota kemudian bertemu untuk saling menonton dan mempertontonkan dirinya. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik ini muncul dengan wajah yang datang silih berganti. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, atau beberapa acara seperti Pasar Seni ITB, Dago Festival
sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan motor yang sering muncul dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street
fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak.

                         

Selain itu, sebagian warga kota juga kemudian mendapatkan sarana fashion daur ulang di wilayah Tegalega yang konon sempat dihuni oleh sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ‘95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain, tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan fashion di kota Bandung. Di tempat-tempat fashion daur ulang semacam ini, pakaian
bekas yang biasanya didatangkan dari luar negeri, sesampainya di lapak langsung disetrika dengan uap
panas dan dijual dengan harga yang sangat murah oleh para pedagang, yang kebanyakan adalah perantau dari daerah Padang, Sumatra Barat. Di tempat ini pulalah
banyak orang dapat menemukan pakaian-pakaian bekas
dengan berbagai macam model, dari mulai t-shirt, sweater,
gaun pesta, jaket kulit, berbagai macam asesoris, sampai pada jenis pakaian model vintage yang terlihat kuno dan dianggap ketinggalan jaman, yang kemudian menjadi bahan inspirasi gaya berpakaian mereka sehari-hari.
                         

                         

Situasi kota yang memiliki karakteristik
yang khas semacam ini, tentu saja sangat berperan bagi munculnya berbagai fenomena baru yang terus menerus mewarnai perkembangan masyarakat di Kota Bandung. Selain itu, secara geografis Kota Bandung berada di wilayah yang relatif mudah di akses. "Karena
Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama." Ujar Dede pada suatu kesempatan.
Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. "Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.", jelasnya.

                         

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV
Tidak hanya di era ‘90-an – apabila
kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat
dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah
penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya,
melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi
satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri
untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru
yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan
scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu
pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

                         

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal
mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung ke arah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah
perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band
baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri
musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio
kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan
di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet
yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung 
saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.
                           
Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak
sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band
underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter 
MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari
Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin
populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama
beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet
pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory
outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro
yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

                         

Melalui keberadaan beberapa komunitas
anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang
   yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita
dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang 
berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa
sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung
pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat
ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi  kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa
kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture)
pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara
beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi
berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk
itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai
perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya
musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen
yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan
yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.
                         

                         

Pertumbuhan yang pesat yang sangat
ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda
di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota
lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri.
Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada 
pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui
internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard
juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang
diberi judul "masaindahbangetsekalipisan", yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal
seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit,
Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara
itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang
sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung
distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal 
Singapura atau Malaysia. "Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual
lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil," ujarnya.

                         

Wujud dari terbentuknya jaringan
yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records
merilis sebuah kompilasi yang berjudul "Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp". Kompilasi ini
didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece
Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi
ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada
tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal
dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain
sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang 
berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh
lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah
banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin,
Jasad, dsb.

                         

Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan
media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan
sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru,
baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya
dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas
anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun
perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan
di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih
terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya
dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan
kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh
dunia. Salut! Selamat datang di Kota Bandung!

                         

Kyai Gede Utama, 16 Januari 
2003

                            **penulis adalah seniman, saat ini bekerja untuk Bandung Center for New Media Arts dan Common Room

                         

End Notes:
(1) Sebagian isi dari artikel ini telah diterjemahkan 
ke dalam artikel berbahasa Inggris yang  berjudul "Bandung Underground on Parade" untuk Majalah Latitudes edisi Maret/April 2003. Selain itu, beberapa point dari
artikel juga dipresetasikan dalam acara Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi (20-22 Oktober 2003), pada sesi "Budaya Industri dan Pergulatan Identitas".
(2) Singkatan dari distribution outlet. Istilah ini mulai populer di Bandung pada pertengahan ‘90-an untuk menggambarkan keberadaan toko-toko kecil yang menjual
berbagai produk semacam kaset, t-shirt dan merchandise
buatan lokal ataupun luar negeri yang biasanya dikelola secara individu ataupun berkelompok.
(3) Wawancara dengan Richard Mutter.
(4) Dari www.pantau.or.id, download terakhir 1 Maret
2003
(5) Wawancara dengan Tommy Dwi Djatmiko

##nice article! sumber: http://www.commonroom.info

Amazing

Thursday, December 22nd, 2005

Aerosmithdisc1080
Salah satu lagu terbaik milik Aerosmith, dari album Big Ones yang dirilis tahun 1994. This song has many quotable lyrics. Masih inget klipnya ga? Seorang remaja polos bertemu dengan virtual girl via simulasi "canggih", dan melakukan hal2  yang hampir mustahil baginya di kehidupan nyata.

*Sweet things, not dirty things*
Hmm kapan ya ada alat seperti itu…hehehe…

I kept the right ones out
And let the wrong ones in
Had an angel of mercy to see me through all my sins
There were times in my life
When I was goin’ insane
Tryin’ to walk through
The pain
When I lost my grip
And I hit the floor
Yeah, I thought I could leave, but couldn’t get out the door
I was so sick and tired
Of a livin’ a lie
I was wishin’ that I
Would die

It’s amazing
With the blink of an eye, you finally see the light
It’s amazing
When the moment arrives that you know you’ll be alright
It’s amazing
And I’m sayin’ a prayer for the desperate hearts tonight

That one last shot’s a permanent vacation
And how high can you fly with broken wings?
Life’s a journey, not a destination
And I just can’t tell just what tomorrow brings

You have to learn to crawl
Before you learn to walk
But I just couldn’t listen to all that righteous talk
I was out on the street,
Just a tryin’ to survive

It’s amazing
With the blink of an eye, you finally see the light
It’s amazing
When the moment arrives that you know you’ll be alright
It’s amazing
And I’m sayin’ a prayer for the desperate hearts tonight.

Emailku sayang emailku malang…

Thursday, December 22nd, 2005

5 hari terakhir ini saya lagi pusing nih, ga bisa login ke account email yang di yahoo euy! dicky_cms@yahoo.com; ya itulah alamat primary email saya. Email tsb dipake bwt kontak denga pembimbing TA, sebagai email owner+admin di 2 milis yang saya create…plus juga kontak dengan temen2 dari jaman SMP, SMU sampe kuliah! Sialnya lagi, otomatis dengan ga bisa dibukanya account email tsb maka account YM-nya juga ga bisa dipake. HELL NO! 

Terakhir kli saya inget login pake email tsb di warnet Internetarium di Buahbatu. Seingat saya ga ada yang dirubah2 tuh. Pas udah beres cek email juga waktu itu langsung log out seperti biasa.

Nah, giliran besoknya pas mo login lagi dari kost, eh ternyata ada pesen "wrong id/password". Heran, udah puluh2 kali dicoba masih juga gitu. Saya coba tempuh prosedur dari yahoo bagi yang lupa id/password…tetep aja ga bisa. Account ga eksis…ato malah saya yang lupa detail personal saya pas create emailnya dulu, ga tau.

Besok saya coba cek ke Internetarium aja ah. Buka dari sana. Siapa tau…ya siapa tau bisa????

help me…heuheu…
*almost hopeless…*

Hitler Raising at a Glance

Sunday, December 11th, 2005

Hitler_hailing_1From 1933 to 1945, a man named Adolf Hitler was the dictator of Germany. In the 1920’s Hitler founded a German political party called the National Socialist German Worker’s Party (NSDAP), colloquially abbreviated as "Nazi." Hitler was a charismatic, if inherently evil, politician.

His political "platform" could be summarized:

  • Germans are the "master race" of Europe
  • Germany must expand to become an empire and provide Lebensraum (living space) for Germans
  • Germany has insidious, evil enemies that constrict Germany. These enemies were the real reason  Germany lost World War I
  • These enemies are Jews, Bolsheviks (Communists) and other "subhumans"
  • Hitler and the Nazi party will destroy Germany’s enemies and remake Germany into the most powerful nation of the world

Hitler and Nazi party glorified violence, war, and military might. As a consequence, most Nazi party organizations became paramilitary organizations - with uniforms, flags, weapons, and so on. The first Nazi paramilitary groups were called Storm Troopers, or Sturm Abteilung (SA) in German. The SA helped propel Hitler into power, but it eventually became too big and unreliable for Hitler to control - so he had the SA leadership killed soon after assuming power in 1933.

The Battle of Stalingrad

Sunday, December 11th, 2005

Stalingrad_mapWorld War II (WW II) –even it was over almost 60 years ago- never make people bore to see, hear and read the history.  It was the biggest war ever until now, involved millions of troops both from the Allies and the Axis. Now in the nuclear age probably there’s no chance a war could involve millions of troops.

One of the WW II’s greatest battle in Europe was The Battle of Stalingrad (August 1942 – February 1943).  It is a clash between 2 military titans in the world, Germany versus Russian which happened in Stalingrad city. The Battle of Stalingrad was the decisive World War II Soviet victory that stopped the German southern advance and turned the tide of the war. At Stalingrad Soviet armies began the series of offensives that were to take them to Berlin.

The first onslaught of Operation Barbarossa in 1941 had carried the German armies to the outskirts of Moscow and Leningrad. In summer 1942 Hitler’s main target was the oil fields of the Caucasus - their capture would deprive the Russians of their fuel supply. An army was to advance down the Volga to Astrakhan and ultimately Baku. Simultaneously the German Sixth Army was ordered to take Stalingrad - ’smash the enemy forces concentrated there, occupy the town and block land communications between the Don and the Volga’. By July 1942 the oil fields seemed to be at Hitler’s mercy. Then he changed his mind and ordered part of the forces that were to occupy them to the siege of Stalingrad instead. By diverting them to this ultimately futile attack Hitler wrecked the Caucasus campaign, which had a good chance of success.

Stalingrad (now Volgograd) was a long urban strip strung out along the west bank of the Volga. Hitler was determined to capture it as it was a major manufacturing centre and the key to the communications system of southern Russia. In German hands it would block Russian attempts to destroy German armies between the Don and Caucasus. But Stalin was equally determined to defend it, not least as it bore his name. His order was read out to every Soviet soldier - ‘Not a step backwards!’. Hence the clash of the titans.

From August 23, when German Sixth Army forces, commanded by General Friedrich Paulus, reached the Volga at Stalingrad, Soviet and German infantry fought a long, house-to-house battle for the city. The occupying Russian army was fanatical. It contested every street and factory, whether still standing or totally destroyed. Territory which the Germans, with their superior fire power, had won by day was regained by night.

At the same time Soviet armies, ultimately numbering an estimated 1 million men, built up. On 19 November, preceded by an enormous barrage, forces under General Zhukov attacked on both German flanks. Within 5 days they had executed a pincer movement that encircled 250,000-300,000 German and satellite troops - the besiegers were besieged. Hitler forbade Paulus from attempting to break out to the rear, which he might have done early in the encirclement.

Goering promised him an airlift which never materialized. A relief army stalled in December and rations had to be reduced. Ammunition was running low. In January the Russians called on von Paulus to surrender. Hitler ordered him to refuse, made him a Field Marshal and informed him that no German Field Marshal had ever been taken alive.

The German position was now hopeless. Troops slowly froze, starved and ran out of ammunition. Paulus’s forces were divided into two parts by a Russian thrust. By 30 January he was trapped in the basement of the large department store in Stalingrad where he had set up his final HQ. To Hitler’s disappointment he preferred to surrender and live: on 2 February he and his staff gave themselves up. By then 70,000 Germans had died in Stalingrad. The Russians took 91,000 prisoners, including twenty-four German generals. Only 6000 ever returned. Hitler himself said, ‘The god of war has gone over to the other side’.

Great American Songbook by Rod Stewart

Sunday, December 11th, 2005

Hmmm…what a cozy sounds! Lagu2 cover yang dinyanyikan secara jazzy
oleh Rod Stewart dan diiringai musik vintage swing jazz a la Frank
Sinatra. Di album yang terdiri dari 3 seri ini kita  bisa menikmati
suara serak si Rod menyanyikan ‘Till There Was You-nya The Beatles, The
Way Look Tonight dari Frank Sinatra,  atau bahkan Stardust-nya Nat King
Cole!

Great album!!

Persib di Jalak Harupat

Sunday, December 11th, 2005

Logo_persib1Gila..sebuah pertandingan ujicoba dalam rangka seleksi pemain ditonton hampir 60ribu pasang mata langsung di dalam stadion. Hehe…jelas hanya Persib yang bisa seperti ini! Puluhan ribu bobotoh dari seantero Bandung bahkan dari luar kota menyaksikan pertandingan ujicoba Persib Bandung derby dengan Persikab Kab. Bandung di hari Minggu, 11 Desember 2005. Salut pada antusiasme bobotoh yang telah datang ke stadion Jalak Harupat di Soreang, meskipun pada akhirnya kita semua sebagai pecinta Persib hanya bisa mengurut dada melihat permainan Persib yang masih jauh harapan…Padahal dari sisi materi jelas skuad asuhan Risnandar lebih lengkap daripada asuhan Indra Thohir musim lalu. Cepat perbaiki selagi masih ada kesempatan!!

Bobotoh membanjiri Jalak Harupat *thx to Ukung for contribution*

Jalak_harupat_2005_f

Jalak_harupat_2005_h

Jalak_harupat_2005_i